Daun-daun boleh berguguran tetapi semangat berpuasa tidak boleh gugur mengikuti gugurnya daun-daun. Begitulah mungkin yang ada di hati kaum muslimin yang sedang berpuasa di musim gugur (daerah beriklim 4 musim). Untuk negara di bagian utara bumi, bulan Ramadhan 1423 H/2002 M bertepatan dengan dengan musim gugur.
Di salah satu kota di Prancis bernama Nancy yang terletak di region Lorraine, bagian timur dari Prancis dan dekat dengan perbatasan Jerman dan Luxembourg, umat muslimin juga turut menyambut datangnya bulan penuh rahmat ini dengan melaksanakan ibadah puasa. Di musim gugur pada saat itu, suhu berkisar antara 5-12 °C dan bila hujan suhu berada dibawah 5 °C.
Pada saat itu, di Nancy puasa dimulai jam 06.00 dan berbuka pada jam 17 .00. Bahkan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan berbuka dilakukan pada jam 16.45.
Pada bulan yang suci ini pula, beberapa asosiasi mengadakan acara bertema keislaman. Seperti Etudiant Musulmans de France (Pelajar Muslim Prancis) mengadakan acara memahami Islam bagi para pelajar dan masyarakat. Asosiasi lain, Union des Jeunes pour la Culture (Persatuan Pemuda untuk Kebudayaan) mengadakan acara dua mingguan berisi ceramah bertema sejarah para nabi.
BUKA PUASA
Seperti kota-kota lain di Prancis, di kota Nancy juga ada beberapa mesjid, antara lain yang berada di jalan Saint Nicolas (daerah pusat kota) atau mesjid Bilal yang berlokasi di Boulevard des Aiguilettes, Laxou. Pada bulan Ramadhan ini mesjid-mesjid tersebut mengadakan buka puasa dan shalat Tarawih bagi para jamaahnya.
Di salah satu mesjid yang bernama mesjid Bilal mengambil nama salah seorang sahabat rasullullah, yang ada di lantai dasar gedung Printemps–Automne, berbuka puasa diselenggarakan pada jam 17.00. Menu yang disajikan berupa segelas susu dan kurma. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari beberapa asrama mahasiswa maka sebagian besar jemaah yang mesjid ini adalah mahasiswa yang berasal dari berbagai negara terutama negara Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia, Algeria, Mauritania, Djibouti dan negara lainnya. Beberapa warga negara Prancis yang beragama muslim juga tampak di antara para jamaah.
Ba’da shalat Magrib, pengurus mesjid dengan cekatan menggelar kertas panjang untuk alas makan di atas karpet mesjid dan mengedarkan mangkok-mangkok yang berisi sup yang dinamakan “Al Harirah“ dan roti. Jamaah dapat menikmati semangkuk sup yang berisi hames, kacang ijo dan cincangan daging. Dan bila ingin menambah maka pengurus mesjid dengan senang hati mengisi kembali mangkuk dengan sup Al-Harirah.
Shalat tarawih di mesjid yang menurut Mohamed El Fatihi (pengurus mesjid Bilal) dipergunakan sejak tahun 2000 ini, dimulai pada jam 19.30. Ia menambahkan, hal ini dilakukan supaya jamaah mesjid yang bekerja bisa ikut shalat tarawih karena pada musim gugur jam kerja akan berakhir pada pukul 19.00.
Untuk jamaah yang berada di mesjid setelah shalat Magrib biasanya mengisi dengan membaca Al-Qur’an, beberapa buku-buku lain atau berdiskusi tentang masalah-masalah keagamaan dengan jamaah lain. Dan pada jam 19.00 ada ceramah yang dilakukan oleh pengurus mesjid atau mahasiswa dalam bahasa arab, terkadang juga hanya membaca buku-buku agama berbahasa arab lainnya.
Jumlah bilangan shalat tarawih yang dilaksanakan di mesjid Bilal adalah 8 rakaat dan salam dilakukan setiap 2 rakaat. Imam-imam pada mesjid ini adalah hafidz-hafidz Al-qur’an. Pada setiap malamnya, imam akan membaca satu juz selama shalat tarawih sehingga di akhir bulan Ramadhan lengkaplah satu mushaf Al-Qur’an (30 juz) dibaca. Sedangkan shalat Witir dilaksanakan sebanyak 3 rakaat dengan 2 kali salam. Ada semacam system kaderisasi di sini. Biasanya pada shalat witir, imam shalat tarawih akan diganti dengan mahasiswa yang tentu usianya lebih muda. Dari informasi beberapa jamaah mahasiswa mesjid ini, ternyata mahasiswa yang memimpin shalat witir adalah seorang hafiz Al-qur’an juga.
Keunikan pelaksanaan shalat tarawih pada mesjid ini adalah setelah melaksanakan 4 rakaat shalat tarawih, di mesjid yang berukuran 85 m2 ini disampaikan ceramah oleh pengurus mesjid atau jamaah yang bersedia lebih kurang 15-20 menit. Ceramah disampaikan dalam bahasa arab. Terkadang di akhir ceramah pengurus mesjid menyampaikan terjemahan ceramah tadi ke dalam bahasa Prancis bagi jamaah yang tidak bisa berbahasa arab. Kadangkala, pengurus mesjid akan meminta jamaah-jamaah yang tidak bisa berbahasa arab untuk duduk mengelompok di dekat beliau pada saat ceramah berlangsung, sehingga beliau akan menerjemahkan ceramah langsung ke dalam bahasa prancis apa yang dikatakan oleh penceramah. Walau agak sedikit ribut, jamaah-jamah yang bisa berbahasa arab tidak merasa terganggu dengan aktifitas ini.
Pada bagian belakang shaf laki-laki, mesjid Bilal ini disediakan beberapa kursi. Fasilitas ini diberikan untuk jamaah yang shalat sambil duduk karena tidak sanggup berdiri, jadi kekurangan fisik bukanlah halangan untuk terus mengikuti rangkaian ritual di bulan yang penuh rahmat ini. Di luar shalat, tidak ada satupun jamaah yang sehat yang mau mempergunakan kursi ini untuk duduk-duduk.
Setelah menyelesaikan shalat tarawih dan witir yang berjumlah 11 rakaat, pengurus mesjid mempersilahkan jamaah untuk mengelompok 6 atau tujuh orang, setelah itu pengurus mesjid memberikan kertas berukuran 2 x 2 m untuk alas nampan makanan. Selanjutnya pengurus akan membagikan sebuah nampan besar berisi hidangan Al Acha yang terbuat dari daging ayam atau sapi, kentang, buah zaytun dan sayuran lainnya ditambah dengan roti. Terkadang ada juga jamaah yang meyumbangkan Qus-qus (makanan dari daerah Maroko, Afrika Utara). Buah segar seperti jeruk atau apel juga sesekali diberikan untuk para jamaah. Tak lupa beberapa botol jus buah, minuman cola, air mineral dan gelas diberikan pada setiap kelompok.
Pengurus mesjid menginformasikan kalau semua hidangan untuk berbuka puasa selama sebulan penuh Al Harirah maupun Al Acha adalah sumbangan dari para jamaah. Mesjid hanya meyediakan peralatan makan dan melakukan pembagiannyanya
Sekitar jam 21.30, semua acara berakhir. Jamaah dengan sukarela membereskan sisa-sisa makanan dan mencucinya peralatan makan. Sebenarnya kegaitan bersih-bersih setelah shalat tarawih sudah dijadwalkan oleh pengurus mesjid. Mulai awal Ramadhan, di papan pengumuman mesjid sudah ditempel kertas karton besar yang bertulis hari dan jam-jam tertentu. Jamaah tinggal menulis namanya pada hari apa dan jam berapa ia bisa membantu mesjid untuk kegiatan bersih-bersih. Jadi tidak ada hari yang terlalu banyak jamaah yang berpartisipasi atau hari lain dimana tidak ada jamaah yang membantu.
Di malam yang semakin gelap dan terkadang di bawah rintiknya hujan dan suhu yang semakin dingin para jamaah pulang ke rumahnya masing-masing untuk mempersiapkan puasa esok harinya. Semua berharap terbangun sebelum subuh di esok harinya untuk bersahur dan selalu berharap Allah menerima segala amalan di bulan penuh rahamat itu. ( Luth)
http://luth85.multiply.com/journal/item/2/RAMADHAN_DI_NANCY
Balises :
Partager
Vous devez être membre du réseau « Ikatan Alumni Prancis Indonesia » avant de pouvoir ajouter des commentaires!
Joignez-vous à ce réseau social